Minggu, 18 Desember 2011

ideologi musik, Genre, dan industri

(lagi) ngomongin musik lagi, mencoba memberikan sudut pandang saya lagi akan musik dan apa saja yang bisa dibahas.
Oh iya sebelumnya jika suatu kata pengantar itu penting, maka adalah sekiranya saya mengikuti kewajaran itu.
Halo nama saya Angga wiradiputra, tapi panggil aja Wenky biar akrab.
Warna favorite :  hijau
angka keberuntungan : no 3
makanan kesukaan : apapun selain seafood, lalu…ah sudah ya skip aja, ga penting juga di bahas. Hehe
Jadi begini ya teman-teman. Sehubungan dengan di tasbihkannya saya menjadi seorang penulis oleh diri saya sendiri. Maka inipun masih seputaran niat saya untuk mengeksiskan diri dan berkoar-koar kepada seluruh dunia (dunia maya khususnya) jika saya sedang suka menulis. Kali ini saya akan membagi sebuah ideologi saya sendiri akan musik dari sudut pandang saya. Salah benarnya ya suka-suka saya saja, dan memang ini tidak mutlak benar. Intinya saya Cuma ingin bercerita saja.
Musik? apa itu musik? Musik yang bagus itu seperti apa? Musik yang apa itu seperti apa? Dan banyak musik dan apa lainnya yang mungkin selalu jadi pertanyaan. Dan dari sekian apa yang ditanyakan, saya ingin membahas soal musik itu apa dan musik yang bagus itu seperti apa menurut saya.
Jika ada sebuah pertanyan musik yang bagus itu seperti apa, sebenarnya tidak akan ada jawabannya, meskipun itu bisa di definisikan oleh banyak sudut pandang orang. Misalnya seorang Erwin gutawa pasti akan mendefinisikan musik yang bagus itu adalah yang teoristik, tertata, tersusun dalam tempo dan repertoar lagu yang rapi. Tapi jika menurut seorang punker mungkin akan lain dan sebaliknya. Mereka menganggap musik itu yang penting punya spirit akan apa yang ingin di sampaikan, ber-orasi lewat lirik lagu, atau apapun yang sebenarnya malah tidak menyoroti musik dari sudut pandang teoristik dan hal yang di pakemkan dalam sebuah ideologi yang di ajarkan banyak sekolah musik. Dan menurut saya keduanya tidak salah. Semua berhak dengan bebas mendefinisikan musik yang bagus itu seperti apa. Jadi tidak akan ada habisnya kan soal pertanyaan musik yang bagus itu seperti apa. Ini belum ditanya para penggemar post rock, brithpop, Grunge, Dreampop atau apapun yang pastinya punya pendapat sendiri-sendiri soal musik yang bagus menurut mereka. Ya kan? Iya lah ya.
Nah berhubung musik yang bagus itu adalah relative, jadi ya menyikapinya adalah dengan tidak memaksakan seseorang untuk setuju dengan apa yang kita analogikan tentang musik yang bagus itu seperti apa. Contoh : dari dulu sampai sekarang saya adalah penggemar berat/Die hard fans of Nirvana & Radiohead. Kenapa 2 band itu? Karena 2 band itu mewakili arti dari kebebasan bermusik menurut saya. Dengan Nirvana yang bebas berekspresi dengan ‘skill is dead’-nya yang malah terlihat jujur karena menjadi diri sendiri. Lalu Radiohead dengan kebebasan akan eksplorasi musiknya (soundnya) yang ‘out of the book’ itu. Dan kebebasan itulah yang pada akhirnya menjadi sebuah ideologi saya tentang bermain musik itu harus seperti apa. Tapi tapi tapi jika ada orang yang menentang/mematahkan ideologi saya tentang kebebasan bermusik itu, ya ngga apa-apa juga. Kan tadi saya bilang jika semua orang berhak memberikan suatu paham apapun akan musik ideal itu seperti apa. Tapi lepas dari semua itu ”music it’s just music” dengan semua kejujurannya, harmonisasinya dan apa yang bisa tertangkap sebuah indera menjadi sesuatu yang akhirnya mereprentasikan sebuah rasa yang tercurah, selamanya akan seperti itu, musik tidak bisa menjadi sebuah agama atau apa yang bisa di rumuskan dan di pakemkan, karena sifatnya sendiri abstrak dan tergantung siapa yang memaknainya seperti apa. Ada yang memaknai musik sebagai hobi, tujuan hidup, just for fun atau apapun lah tergantung si penikmat musik itu sendiri mengartikannya.
Itu sedikit saja tentang contoh soal yang mendasar tentang musik dan musik bagus itu seperti apa menurut saya. Sekarang beralih dengan pernik musik selain itu. Contoh kecilnya adalah tentang genre/aliran musik. Sebagian orang mungkin ada yang tidak menyukai tentang suatu pengkotakan akan sebuah genre dalam musik. Kalau saya pribadi sih antara setuju dan tidak setuju atau mungkin malah ga peduli soal itu. Tapi jika suatu genre lahir untuk menjatuhkan genre lainnya, itu pasti saya tidak setuju. Karena musik kan harusnya unite dan menguatkan, bahkan dalam versi berlebihannya musik adalah sebagai alat pemersatu dan bahasa dunia. Adapun dalam versi simple-nya genre adalah hanya sebatas pengkotakan selera saja, yang tidak mungkin semua musik yang tercipta itu akan kita sukai semuanya. Pastilah ada satu atau dua yang bisa kita anggap bisa lebih mewakili diri kita ada di genre musik seperti apa. Dan ya itu mah bebas bebas aja. “bebaskeun weh lur”.
Cukup ya soal definisi musik yang mendasar. Sekarang kita mulai bahas faktor penunjang lainnya untuk memunculkan sebuah musik yang pada akhirnya bisa sampai di telinga kita dan kita dengar lalu kita suka. Adalah sebuah industri yang pada akhirnya mewadahi karya seni itu (dalam hal ini seni musik) untuk kemudian di publish dan sampailah ke telinga kita. Namun pada perkembangannya industri itu tidak selalu berjalan seperti apa yang seharusnya ideal menurut kita, khususnya saya yang memang (ehem) idealis ini.
Industi = pasar dan pasar = jualan, dan apa yang di jual adalah produk. Dan produk yang menjual adalah apa yang pasar inginkan. Bolak balik ya? ya gitulah pokoknya. Kenapa menjadi tidak sesuai dengan apa yang ideal menurut saya? Karena musik pada akhirnya menjadi suatu produk yang di jual. Konotasi tentang musik yang dijual itu sendiri sebenarnya bukan suatu dosa besar menurut saya. Wajar saja jika seorang musisi membuat musik, meng-albumkannya dan berharap ada yang mengapresiasinya dengan cara membeli albumnya. Lalu salahnya? Salahnya adalah terletak dalam suatu stereotype/keseragaman demi sebuah produk yang ngejual.
Kalau dari segi bisnis kan apa yang pasar inginkan ya itu yang produk coba tawarkan agar laku. Dan dampaknya di negeri saya Indonesia ini, ditandai dengan lahirnya banyak band melayu kala itu. Lalu sekarang diteruskan dengan banyaknya boyband/girlband k-pop disini, karena ya itu yang pasar inginkan sekarang/itu yang menjual sekarang. Padahal sebenarnya, melalui sudut pintarnya band Efek Rumah Kaca pernah memberikan statemen jka “pasar bisa di ciptakan”, dan kenyataannya mereka memang sukses meskipun mereka bukanlah termasuk dalam kategori band melayu apalagi boyband. Dan jika mikir positifnya band melayu ataupun boyband disini adalah bukan suatu ‘kesalahan’ juga bagi perkembangan warna musik disini. kalau satu atau dua band melayu atau boyband/girlband sih ga masalah dan mungkin memang perlu juga sebagai keragaman warna musik disini, karena ga semua orang suka Pure saturday atau Efek Rumah kaca, ya kan?. nah yang salah tentulah balik lagi pada pola keseragaman itu. Dan pola keseragaman itu ada karena si pelakunya (industri yang mewadahi musisinya), tidak berani ber-spekulasi akan sesuatu yang baru, yang menurut mereka belum tentu laku di pasaran dan imbas yang bagus dari segi materi/penjualan. Bahasa mereka sih “realistis” gitu cenah. cenah ceuk saha? ceuk eta tah bos nagaswara record. :p
Realitanya di Indonesia seperti itu, dan kalau Ngomongin Indonesia berarti kita ngomongin soal cara berpikir skeptis yang memang sudah menjadi atau seakan sudah menjadi ciri berpikirnya bangsa ini. Sedih ya? Hiks hiks (kalo kata ABG mah). Seorang musisi (ngakunya musisi) belum apa-apa udah berpikir “ini lagu yang gua bikin laku ga ya?” ngejual ga ya? Gua bisa dapet duit dari ini ga ya? tuh kan belum apa-apa udah skeptis. Katanya yakin kalau rejeki mah udah ada yang ngatur, lalu mengapa anda khawatir wahai musisi palsu. Berkarya lah dulu, jika memang bagus pasti akan diterima ko, dan bentuk penerimaan itu bisa berupa album yang laku ataupun tawaran manggung yang banyak, yang ga mungkin kan kalau ga ngehasilin duit? Iya ga? Iya lah ya. Lucu kan? Ya memang lucu. Sok atuh seuri. Seuri barudak. Hahahaha.
Hhmm lalu apalagi ya yang ingin saya sabdakan. Hehe. mumpung di awal paragraf saya sudah tegaskan jika ini hanyalah sudut pandang saya saja, dan mungkin tidak mutlak. Jadi saya ga perlu khawatir akan ada yang mematahkan sebuah ideologi/pemahaman saya tentang musik ini. Jawabnya ya tinggal bilang ini Cuma menurut saya saja. Dan kalaupun keukeuh ingin mematahkan teori ini ya silahkan saja. “ai teu era mah” hahaha. (bentar nyeduh kopi dulu) sekalian mikir, sekalian beli cemilan dulu, sekalian beli rokok dulu, eh lupa kalau saya udah ga ngerokok. Ya pokoknya nulisnya udah dulu lah ya. Nanti saya sambung lagi soal Lagu lagu dengan judul “Janganlah Anda menyalahkan sebuah Lagu, karena lagu tidak punya dosa” (musicology wenky #2). Tapi nulisnya ntar aja.
Akhir kata terima kasih sudah mau berbaik hati untuk meluangkan waktunya membaca tulisan saya. Semoga bermanfaat, dan kalaupun ga bermanfaat ya minimal kan saya udah niat baik nih, udah mau ngasih pandangan hasil pengamatan saya beberapa tahun terakhir ini. Semoga tuhan memuliakan kebaikan anda sekalian. Dan untuk saya, semoga tuhan memberikan rizky yang cukup untuk saya agar saya bisa bikin album sendiri. jadi ga cuma koar-koar soal musik saja, tapi ada contoh kongkritnya berupa album musik yang saya bikin. Trus dibikinnya kapan? ya nanti kalau modalnya udah cukup. Sekarang baru ada berapa gitu modalnya? baru 2500, hasil kembalian beli nasi kuning. Mungkin sekitar setahunan lagi lah modal itu cukup, dengan hasil perhitungan seperti ini (sehari 2500 x setahun. setahun 365 hari, nah 2500 x 365 = Rp 912.500) sisanya paling jual baju, jacket, sepatu atau apapun.
semoga terealisasikan.
Amin amin.
#senyum
Peace, love, and gaul..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daniel Calvin - Menjadi Milikku